SEJARAH PREDIKSI


Melakukan prediksi dan ramalan memang merupakan sifat alamiah manusia. Hal tersebut sudah dilakukan sejak manusia belum bisa membaca dan menulis.

Memprediksi cuaca dilakukan sejak jaman nenek moyang kita untuk menentukan kapan waktu yang tepat untuk mulai menanam padi. Prediksi cuaca yang tepat dapat mendatangkan hasil panen yang berlimpah. Kesalahan dalam melakukan prediksi cuaca dapat mengakibatkan hasil panen yang sedikit atau bahkan gagal panen. Berbagai macam metode dilakukan untuk memprediksikan cuaca, mulai dari melihat gejala alam, perubahan suhu, perubahan tekanan udara, melihat tingkah laku binatang, bertanya kepada orang pintar, sampai menggunakan teknologi satelit cuaca. Semua cara dilakukan untuk meningkatkan hasil panen agar berlimpah. Manusia tidak bisa melawan alam, sehingga prediksi-prediksi tersebut dilakukan agar langkah yang diambil selaras dengan alam.


 
Gambar bermacam-macam prediksi yang dilakukan manusia.


 

Tidak hanya di Indonesia, kegiatan memprediksi sesuatu atau meramal juga jamak dilakukan di luar negeri. Banyak sekali contoh-contoh yang dapat kita lihat, dengan Teknik yang berbeda-beda pula. Siapa yang tidak kenal dengan “Ouija Board”, yang banyak dimainkan oleh orang-orang baik tua maupun muda. Ouija Board sering kali ditampilkan dalam film-film Barat. Terdiri dari papan dengan huruf-huruf dan angka di atasnya, dan sebuah planchette (seperti mouse computer yang terbuat dari kayu tetapi lebih tipis) yang digerakkan oleh jari orang-orang yang berpartisipasi dalam memainkan Ouija Board tersebut. Dari orang-orang yang akan menggunakan Ouija Board tersebut, dipilihlah 1 orang séance (orang yang dianggap lebih sensitif dengan mahluk halus) untuk mewakili grup dalam bertanya kepada mahluk halus yang hadir di papan Ouija Board tersebut. Setelah pertanyaan selesai diucapkan, maka planchette akan bergerak sendiri merangkai huruf-huruf yang terdapat di papan Ouija Board menjadi sebuah jawaban atas pertanyaan yang diucapkan.


Gambar Oujia Board untuk mendatangkan mahluk halus yang digunakan untuk bertanya dan meramal.

 

Di China juga terdapat Teknik meramal yang mirip dengan Ouija Board ini. Dikenal dengan nama “Fuji” (Chinese: 扶乩/扶箕; dibaca: fu chi) merupakan Teknik untuk berbicara dengan arwah menggunakan bak berisi pasir atau abu bekas pembakaran dupa dan alat seperti jangka untuk menulis. Sama seperti Ouija Board, Fuji dapat memberikan jawaban atas pertanyaan yang diajukan, namun jika Ouija Board hanya menunjukkan huruf-huruf atau angka-angka yang sudah tercetak pada papannya, pada Fuji maka jawabannya akan berupa huruf yang dituliskan di atas pasir atau abu bekas pembakaran dupa tersebut. Hasil jawaban dari Fuji ini dipercaya lebih “sakti” dibandingkan dengan Ouija Board, karena selain persiapannya yang lebih sulit, hasilnya memang berupa tulisan yang tergores di pasir atau abu.


Gambar Fuji Board untuk mendatangkan arwah yang digunakan untuk bertanya dan meramal.

 

Indonesia pun sebenarnya juga memiliki Teknik yang mirip dengan kedua metode di atas. Siapa yang tidak kenal dengan main Jelangkung di Indonesia? Dengan menggunakan gayung batok kelapa yang didandani seperti orang, atau bahkan jangka, pemain jelangkung dipercaya dapat bertanya kepada mahluk halus, dan jawabannya akan dituliskan oleh medium gayung batok kelapa atau jangka yang disebutkan tadi. Permainan ini biasanya dimainkan secara beramai-ramai pada saat terang bulan, dan bila makhluk halus tersebut datang, makhluk tersebut akan memperkenalkan dirinya dan bercerita dengan menggunakan bantuan alat tulis. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan sangat beraneka ragam, seperti nama makhluk tersebut, tahun berapa meninggal dan penyebab meninggal, bahkan sering juga tentang peruntungan masa yang akan datang dan nomor keberuntungan dalam perjudian.


Gambar Boneka Jelangkung untuk mendatangkan mahluk halus yang digunakan untuk bertanya dan meramal.

 

Selain Teknik meramal yang bersifat “paranormal”, banyak juga teknik-teknik yang dapat digunakan oleh orang jaman dahulu untuk memprediksi, yang pada jaman dahulu dianggap sebagai Teknik Gaib, namun seiring dengan perkembangan jaman, dipahami ternyata teknik-teknik tersebut memiliki landasan ilmiah dan/atau alamiah yang logis dan masuk akal.


Stonehenge di Inggris pada jaman dahulu dipercaya sebagai tempat ritual yang memiliki kekuatan magis, dimana para penyihir menggunakan batu-batu raksasa tersebut untuk mencari kekuatan sihir dan meramalkan kejadian-kejadian yang akan terjadi. Seiring berjalannya waktu, dipahami bahwa sebenarnya Stonehenge bisa digunakan untuk meramalkan kejadian-kejadian karena posisi batu-batu raksasa tersebut dibuat bertepatan dengan posisi matahari, bintang, dan bulan pada kondisi-kondisi tertentu. Dengan memperhatikan posisi matahari, bintang, dan bulan terhadap batu-batu Stonehenge, seorang “penyihir” dapat meramalkan gerhana (sebenarnya kejadian berulang yang dapat diperhitungkan) yang sangat ditakuti oleh orang jaman dahulu. Sang “penyihir” juga dapat memprediksi pergantian cuaca, agar para petani dapat menyesuaikan waktu tanam sesuai dengan cuaca agar hasil panennya berlimpah.


Gambar Stonehenge yang pada jaman dulu dianggap sebagai tempat dengan kekuatan magis.

 

Kebutuhan akan sebuah masa depan yang lebih pasti mengakibatkan banyak orang haus akan ramalan dan prediksi. Kebanyakan dari kita juga mungkin ingat akan prediksi bangsa Maya dimana dunia diramalkan akan mengalami kiamat pada 21 Desember 2012. Prediksi bangsa Maya ini sempat membuat heboh dunia, sampai-sampai ada orang-orang yang membuat bunker perlindungan untuk menghindari kiamat. Di Amerika, sempat terjadi pemborongan bahan makanan, peningkatan pembuatan bunker perlindungan, dan lain sebagainya. Yang menarik disini adalah ramalan tersebut dihasilkan oleh bangsa Maya yang telah hilang sejak tahun 1697 Masehi karena diserbu oleh bangsa Spanyol selama hampir 200 tahun. Namun karena bangsa Maya sangat terkenal akan kecanggihan seni rupa, arsitektur, matematika, kalender, dan keahlian astronominya, maka ramalan dan prediksinya tetap dianggap relevan 400 tahun setelah mereka tidak lagi ada. Sekali lagi dapat ditekankan, bahwa manusia memiliki kebutuhan akan masa depan yang lebih pasti sehingga prediksi dan ramalan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia.


Gambar Kalender Maya yang memiliki durasi 5.125,37 tahun Masehi per siklusnya, atau kira-kira 1.872.000 hari per siklus.

 

Sampai disini, ada baiknya kita mengistirahatkan pikiran sejenak. Minumlah minuman favorit anda, sambil jangan lupa melihat ke kejauhan selama kira-kira 5 - 10 menit, agar mata kita juga bisa beristirahat dan tidak cepat rusak. Berdirilah sejenak. Jika sudah segar kembali, mari kita lanjutkan kembali.



KEMBALI




LANJUTKAN!!!